Kusadari, mau nggak mau setiap manusia membutuhkan rasa syukur. Bukan pada saat menerima nikmat saja, tapi kemunculannya setiap saat dalam hati perlu dtumbuhkan. Sekarang aku duduk terpekur seorang diri di dalam kamar, hanya ada tumpukan buku yang menemani dalam renungan yang mengandung berjuta mimpi. Aku mencoba merenungi setiap kejadian demi kejadian yang aku alami sekaligus aku rasakan. Kubolak-balikkan analisa pemikiran dan kubenahi segala sikap yang kurang obyektif terhadap kebenaran. Sebetulnya sudah berulang kali aku mengutarakan, otomatis pula aku memikirnya, namun sayang mereka sulit memahami cara berfikir seseorang. Mungkin dengan tulisan ini bisa membantu Anda para wanita untuk menunjukkan kesempurnaan fitrah sebagai seorang wanita, sekaligus bisa menepis segala macam alur berfikir yang kurang pas dalam beragama.
Begini ceritanya, bapak dan ibuku menganggap seolah sekolahku tidak berhasil. Beliau-beliau menganggap keberhasilan seseorang didapat disaat seseorang sudah mampu mencari uang, dapat menghasilan uang dengan cara yang terhormat dan dihormati, sehingga seorang bapak/ibu menyekolahkan putra-putrinya agar kelak anaknya bisa hidup makmur aman sentausa, layaknya menjadi seorang PNS yang sekarang banyak diminati kaum awam terpelajar.
Aku merupakan anak sulung yang sekarang sudah mempunyai status baru. Berperan sebagai istri sholihah, penginnya… memang dulu sebelum aku menikah aku sempat mempunyai banyak cita-cita, sampai-sampai aku mendaftarkan diri, menempuh proses demi proses untuk bisa melanjutkan sekolah ke Australi, akhirnya tidak jadi. Sebelumnya pula aku juga pernah bercita-cita dan akan merasa bangga menjadi seorang ibu rumah tangga. Menggunakan ilmu yang kudapatkan selama ini untuk mengurus dan menata rumah tanggaku. Entah kenapa waktu itu pola pikir yang membentukku menjadi “orang pinter” justeru mendorongku untuk hanya sekadar menjadi ibu rumah tangga. Melayani suami, mendidik dan membesarkan anak-anak dengan tangan sendiri, merawat rumah dengan rapih, dan sebagainya, dan sebagainya. Memang jika sekadar melakukan pekerjaan itu pun semua orang bisa, kan tidak perlu ijazah ataupun gelar yang tinggi untuk bisa menjalankan semua aktivitas tersebut?! Tapi menurutku menjadi seorang ibu rumah tangga tidak semudah itu Kawan, peran itu menuntut seorang wanita kudu piter, jika perlu sekolah yang tinggi untuk menjadi ibu rumah tangga. Itu menurut pemikiran dan kata hatiku… Anda boleh setuju boleh tidak.
Sayangnya, setelah menikah semua apa yang dulu dalam benak pikir berubah berbalik arah 180⁰. Memang aku tidak jadi berkarir seperti para wanita karir yang lain sih, berangkat pagi pulang malam, meski bukan kerja kantoran. Tapi aku juga ingin membantu suami semaksimalku dengan tidak menelantarkan keluarga, itu prinsipnya.
Cara berfikir antara aku dengan orangtuaku berbeda. Aku dulu sekolah dijurusan kesehatan dan berprofesi sebagai okupasi terapis. Pekerjaanku melatih seseorang yang mempunyai kecacatan atau hendaya fisik atau mental agar bisa beraktivitas secara mandiri sesuai dengan perannya masing-masing. Nah, sekarang orang tuaku menghendakiku untuk bisa menerapkan ilmuku, dengan bekerja sesuai dengan bidangku tersebut. Namun formasi okupasi terapis baik swasta maupun negeri masih jarang, mengingat belum familier dan dikenal oleh masyarakat awam. Profesi ini tergolong masih ranum, maka jika ingin bekerja, peluang sekecil apapun hendaknya diambil, termasuk ikut tes CPNS. Begitu saran ayahku waktu aku mampir ke rumah siang itu. Oke, akupun setuju soal itu. Namun yang menjadi dilema bagiku adalah daerah tempat dimana aku tinggal, yang tidak lain rumah suamiku dengan jarak tempat dimana aku akan bekerja sebagai cpns sangat jauh, sedang suamiku menghendakiku agar jangan sampai melupakan kewajiban sebaga istri, jika sudah masuk kerja nanti. Jika harus pindah kelihatannya suamiku kurang setuju mengingat orang tuanya yang sudah mulai menua dimakan usia. Hal demikian membuatku harus merelakan salah satunya, entah keluarga atau karir.
Pernah suatu saat bapakku bilang dengan santai sembari duduk di depan televisi.
“Aku merasa kecewa kalau melihat kamu Nduk, lha teman-temanmu sudah pada kerja sedang kondisimu sekarang… nganggur.” bapakku bilang dihadapan kami. Waktu itu suamiku duduk bersanding denganku. Posisi bapak waktu itu agak jauh dari kami, sekitar satu meter arah sejajar dengan kami, sehingga ekspresi wajahnya kurang bisa terlihat dimataku.
Sewaktu beliau berkata demikian, hatiku merasa kecewa terhadap ucapan bapakku. Kenapa beliau bisa berkata begitu? Memang tidak menafikan, orang tua ingin anaknya sukses dunia akhirat, tapi hal demikian tidak bisa dicapai sekaligus, Pak. Setelah mendengar ucapan itu, aku melihat ekspresi wajah suamiku terlihat risau. Beberapa saat kemudian perasaanku menjadi hambar. Soalnya semenjak aku menikah dengannya aku keluar dari pekerjaanku, dimana sebelumnya aku bekerja di sebuah rumah sakit ternama di Jogja, meski masih ber-status pegawai kontrak. Sedang suamiku bekerja sebagai wiraswasta yang baru merintis di rumah, jadi masih trial and error. Setelah menikah aku ikut suamiku, tinggal di Klaten. Kami nikah muda, sehingga jika saat ini dituntut untuk seperti mereka yang hidupnya sudah mapan, mohon maaf, kami belum bisa.
Menurutku, dulu aku termasuk mahasiswa yang pinter lho. Aku gak bermaksud sombong, yakin! Belum lulus aja aku sudah bekerja. Setelah lulus aku langsung mencari peluang pekerjaan yang pas dengan keinginanku. Waktu itu keinginanku untuk menerapkan ilmuku sangat tinggi. Proses demi proses kujalani hingga akhirnya aku bisa bekerja sebagai volunter di sebuah klinik terapi. Letaknya di Solo, setiap pagi jam 7 aku memacu sepeda motorku dari Klaten ke Solo untuk bisa belajar menerapkan ilmuku secara mandiri. Tidak bertahan lama, hanya 2 minggu, akhirnya ada teman yang menawarkan peluang kerja untuk ikut praktik dokter di sebuah apotek di Jogja. Seiring dengan bergulirnya waktu akhirnya nasib memilihkanku untuk merantau ke Jogja. Aku mengajak teman seperjuanganku. Waktu itu aku masih tetap menyandang profesi yang sama, okupasi terapis.
Dokter itu mengatakan, “Ini masih rintisan, jadi belum banyak pasien. Dan dapat uangnya kalau ada pasien, jika gak ada pasien otomatis gak dapat uang. Jadi nanti jangan menyesal.“ kata beliau dengan nada suaranya yang terdengar berat dan susah.
“Iya, insyaallah gak apa-apa, Dok.” Kataku dengan yakin. Tekatku semakin bulat. Mengingat beliau adalah seorang dokter senior yang mumpuni di rumah sakit pemerintah, saya terima tawaran yang menantang itu. Badannya yang tinggi besar disertai perut yang agak buncit tidak menciutkan nyaliku untuk bekerjasama dengan beliau. Umurnya setengah baya, jika Anda melihat matanya terdapat 2 kantung tebal dibawah kelopak matanya yang menandakan kerutan tua. Potongan rambutnya culun layaknya model jaman dulu. Tapi aku yakin, aku akan bisa berkembang. Aku mulai mengeksplor diri. ‘pasti nanti lama-lama juga ada pasien.’
Bersusah-susah dulu tidak apa-apa yang penting maju terus. Mumpung masih muda, aku akan memanfaatkan kesempatan dengan sebak-baiknya. Mumpung belum punya tanggungan aku akan cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Aku ingin mengetahui sampai mana aku bisa bertahan. Pikirku waktu itu. Aku mulai bergelut dengan nasib.
Itu sekelumit pengalamanku. Tapi sekarang keadaannya beda.
Kembali lagi, namanya orangtua ingin anaknya kelak bisa hidup enak dan serba kecukupan. Iya, itu tidak kupungkiri. Mungkin hanya dengan menjadi abdi negara kelak bisa hidup enak. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika tidak bekerja alias libur pun tetap mendapat gaji, selain itu juga mendapat tunjangan dihari tua.
Sebetulnya aku lebih suka menggunakan ilmuku untuk keluargaku. Adapun aplikasi teknis jika memang suamiku mengijinkanku untuk membantu bekerja diusahakan mencari tempat yang mudah dijangkau dari rumah dan masih punya banyak waktu untuk mengurus keluarga.
Tadi pagi ibuku bilang.
“Besok anakmu jangan sampai sepertimu, sekolahnya gagal! Jangan disekolahkan seperti kamu! sekarang buktinya cari kerjaan susah!!” dengan nada tinggi sembari duduk di sofa, beliau menceramahiku.
MasyaAllah, meskipun dia ibuku, tapi cara berpikirnya benar-benar beda denganku. Cara berbicaranya pun berbeda. Kata-kata yang beliau ucapkan sangatlah tidak enak bila dirasakan dalam hati. Bukan karena hatiku yang sangat sensitif tapi memang kata-kata seperti itu tidak pantas diucapkan kepada seseorang sekalipun kepada anaknya. Rasulullah saja mengajarkan kalau tidak bisa bicara baik lebih baik diam. Lalu kujawab,
“Apa sekolah tujuannya untuk mencari pekerjaan, Bu? Sekolah itu biar pintar. Kalau ibunya pintar anak nya juga akan pintar, karena pola asuh ibunya yang terpelajar sehingga dalam mendidik anakpun juga teratur. Coba kalau ibunya bodoh, cara mendidik anak sekenanya dan tidak bisa mengatur rumah tangga dengan baik, otomatis anaknya juga akan jadi bodoh. Namanya anak perempuan sekalipun sekolahnya tinggi pada akhirnya juga mengurus rumah tangga jika tidak ingin keluarganya terbengkalai.” Jawabku dengan suara gemetar. Aku menahan emosi agar jangan sampai mengucapkan kata-kata jelek. Aku menjawab sembari nonton televisi agar terlihat samar bahwa hatiku sangat tersinggung atas ucapan ibuku itu. Pandanganku kabur karena air mata yang mulai berkaca-kaca membasahi seluruh kornea.
Buktinya banyak, dari adik-adikku sendiri saja, sekolahnya terbengkalai, pergaulannya nggak genah, bergaul dengan para pemabuk, tidak bisa bersikap sopan dan menghormati orang tua, tidak mau tidur di rumah, jika punya uang dihambur-hamburkan untuk foya-foya dengan teman-temannya. Lalu bagaimana dengan fenomena seperti itu akan kubiarkan menimpa keluargaku kelak? Cukup jadi pelajaran bagi diriku saja. Aku sudah bertekad untuk mendidik dan merawat anak-anakku dengan tanganku sendiri. Sekali lagi, memang harus mengorbankan salah satunya.
Kelakuan seperti itu tidak mungkin terbentuk jika orang tuanya pintar dalam mendidik anak-anaknya, terutama seorang ibu. Ia berperan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Oke, itu yang pertama.
Yang kedua, apakah sekolah selama tiga tahun dengan ilmu yang dimiliki hanya ditentukan saat ini saja? Manusia itu berkembang dengan perubahan-perubahan pikirannya yang mulai berinovasi jika ia pintar. Pekerjaan tidak harus menjadi PNS. Sudah berulangkali kata-kata itu aku ucapkan kepada orang tuaku. Kedepannya, insyaallah aku ingin mendirikan sebuah klinik anak dan penerbitan buku, yang kedua pekerjaan itu bisa kukerjakan di rumah, sehingga aku masih bisa memonitoring rumah tanggaku, karena yang pertama dan yang paling utama adalah keluarga. Sesuai dengan pesan Allah dalam frman Nya, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.”
Insyaallah aku tetap akan menerapkan ilmuku. Aku masih ingat kok bagaimana cara meng-assesment anak-anak autis, hiperaktif, atau gangguan perkembangan lainnya. Bagaimana mengaplikasikan teknik bobath, aku juga masih ingat dengan kerangka acuan apa yang digunakan untuk menangani pasien jiwa dengan kasus tertentu. Insyaallah cita-citaku akan terwujud, jika aku yakin bisa melakukannya. Aku akan menunjukkan pada mereka bahwa aku bisa hidup sejahtera dengan ilmu yang kupunya meski tanpa menjadi abdi negara. Mungkin sekarang keadaan ekonomi kami baru sulit. Biasa, rumah tangga baru. Jalan yang kutempuh sekarang adalah dengan menjadi guru bantu di sekolah dimana bapakku mengajar disitu. Ini yang baru bisa kulakukan agar pikiranku tidak bosan sambil cari-cari pandangan yang lebih pas.
Memang terkesan mengecewakan jika orang lain memandangku dari satu sisi, duniawi. Tapi aku pernah ingat pelajaran dari sebuah buku yang berjudul Living Smart karangan Muhammad Nazhif Masykur bahwa bekerja itu tidak harus menjadi PNS dan Arrozaq itu adalah Allah. Lalu kenapa kita mati-matian mematok bahwa jika menjadi PNS masa depan akan cerah? Kubiarkan mereka yang menjawab sendiri.
Aku juga pernah mendapat pelajaran dari sebuah riwayat didalam sebuah hadits tentang seorang perempuan yang berhasil membuat ayahnya masuk syurga karena saking taatnya pada suami. Jika kupelajari lebih jauh, sebetulnya itu menguntungkan orang tuaku. Aku bisa menjadi jalan masuk syurga bagi ayahku dengan ketaatanku pada suami.
Malam harinya, aku mendekat dan duduk di samping suamiku.
“Mas, aku mau bertanya tolong jawab dengan jujur ya…” aku bertanya dengan jeda suara yang agak lama.
Suamiku terdiam agak lama, terlintas goresan keraguan pada wajahnya. Ia terkesan agak terpojok.
“… Iya.” Begitu ia menjawab sembari membungkusi makanan ringan yang akan kami jual keesokan harinya.
“Sebetulnya Njenengan menghendakiku seperti apa, maksudku masalah pekerjaan. Lebih suka aku di rumah atau bekerja diluar.” Begitu penjelasanku selanjutnya.
“Idealnya, seorang istri itu di rumah mendidik anak-anak dan mengatur rumah tangganya.”
“Tapi kata mereka jika seorang wanita tidak berpenghasilan sendiri dan hanya tergantung pada suami, ia akan diremehkan suami.” Aku kembali menjelaskan.
“Itu kan laki-laki yang tidak tahu diri!” begitu jawabnya dengan masih menenggelamkan dalam aktivitasnya.
“Jika demikian yang Njenengan kehendaki, sebaiknya kita hidup mandiri dan sudah tidak campur sama orang tua biar aku bisa mengatur segalanya dengan bebas dan aku lebih bisa melayani Njenengan dengan maksimal. Aku bisa menerima keadaan kita saat ini kok.” Begitu kataku dengan masih membantunya memasukkan makanan ke dalam plastik.
“Ya, kalau kamu mau menjadi istriku, ya harus bersedia menerima keadaanku seperti ini Sabar dulu ya… maaf aku belum bisa memberikan yang terbaik untukmu.” Suamiku berbicara dengan santai.
Bukan masalah atas diriku untuk menerima keadaan suamiku apa adanya. Aku pun mengerti bahwa sikap seorang istri sholihah harus bersyukur atas pemberian suaminya. Aku juga tidak menuntut lebih darinya, hanya saja aku ingin hidup mandiri tidak tergantung pada orang tua. Itu saja. Biar aku bisa melaksanakan peranku sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga dengan semaksimalku.
Aku berharap suatu saat nanti anakku bisa menjadi generasi terbaik diantara yang baik. Menjadi pemimpin masa depan yang bisa diandalkan, mampu mendobrak peradaban jaman yang semakin tak karuan, serta menjadi generasi robbani yang siap menegakkan qur’an dan sunnah Nabinya.


Komentar Terakhir