Profesi Vs Peran Istri

istriku pendampingku
istriku

Kusadari, mau nggak mau setiap manusia membutuhkan rasa syukur. Bukan pada saat menerima nikmat saja, tapi kemunculannya setiap saat dalam hati perlu dtumbuhkan. Sekarang aku duduk terpekur seorang diri di dalam kamar, hanya ada tumpukan buku yang menemani dalam renungan yang mengandung berjuta mimpi. Aku mencoba merenungi setiap kejadian demi kejadian yang aku alami sekaligus aku rasakan. Kubolak-balikkan analisa pemikiran dan kubenahi segala sikap yang kurang obyektif terhadap kebenaran. Sebetulnya sudah berulang kali aku mengutarakan, otomatis pula aku memikirnya, namun sayang mereka sulit memahami cara berfikir seseorang. Mungkin dengan tulisan ini bisa membantu Anda para wanita untuk menunjukkan kesempurnaan fitrah sebagai seorang wanita, sekaligus bisa menepis segala macam alur berfikir yang kurang pas dalam beragama.

Begini ceritanya, bapak dan ibuku menganggap seolah sekolahku tidak berhasil. Beliau-beliau menganggap keberhasilan seseorang didapat disaat seseorang sudah mampu mencari uang, dapat menghasilan uang dengan cara yang terhormat dan dihormati, sehingga seorang bapak/ibu menyekolahkan putra-putrinya agar kelak anaknya bisa hidup makmur aman sentausa, layaknya menjadi seorang PNS yang sekarang banyak diminati kaum awam terpelajar.

Aku merupakan anak sulung yang sekarang sudah mempunyai status baru. Berperan sebagai istri sholihah, penginnya… memang dulu sebelum aku menikah aku sempat mempunyai banyak cita-cita, sampai-sampai aku mendaftarkan diri, menempuh proses demi proses untuk bisa melanjutkan sekolah ke Australi, akhirnya tidak jadi. Sebelumnya pula aku juga pernah bercita-cita dan akan merasa bangga menjadi seorang ibu rumah tangga. Menggunakan ilmu yang kudapatkan selama ini untuk mengurus dan menata rumah tanggaku. Entah kenapa waktu itu pola pikir yang membentukku menjadi “orang pinter” justeru mendorongku untuk hanya sekadar menjadi ibu rumah tangga. Melayani suami, mendidik dan membesarkan anak-anak dengan tangan sendiri, merawat rumah dengan rapih, dan sebagainya, dan sebagainya. Memang jika sekadar melakukan pekerjaan itu pun semua orang bisa, kan tidak perlu ijazah ataupun gelar yang tinggi untuk bisa menjalankan semua aktivitas tersebut?! Tapi menurutku menjadi seorang ibu rumah tangga tidak semudah itu Kawan, peran itu menuntut seorang wanita kudu piter, jika perlu sekolah yang tinggi untuk menjadi ibu rumah tangga. Itu menurut pemikiran dan kata hatiku… Anda boleh setuju boleh tidak.

Sayangnya, setelah menikah semua apa yang dulu dalam benak pikir berubah berbalik arah 180⁰. Memang aku tidak jadi berkarir seperti para wanita karir yang lain sih, berangkat pagi pulang malam, meski bukan kerja kantoran. Tapi aku juga ingin membantu suami semaksimalku dengan tidak menelantarkan keluarga, itu prinsipnya.

Cara berfikir antara aku dengan orangtuaku berbeda. Aku dulu sekolah dijurusan kesehatan dan berprofesi sebagai okupasi terapis. Pekerjaanku melatih seseorang yang mempunyai kecacatan atau hendaya fisik atau mental agar bisa beraktivitas secara mandiri sesuai dengan perannya masing-masing. Nah, sekarang orang tuaku menghendakiku untuk bisa menerapkan ilmuku, dengan bekerja sesuai dengan bidangku tersebut. Namun formasi okupasi terapis baik swasta maupun negeri masih jarang, mengingat belum familier dan dikenal oleh masyarakat awam. Profesi ini tergolong masih ranum, maka jika ingin bekerja, peluang sekecil apapun hendaknya diambil, termasuk ikut tes CPNS. Begitu saran ayahku waktu aku mampir ke rumah siang itu. Oke, akupun setuju soal itu. Namun yang menjadi dilema bagiku adalah daerah tempat dimana aku tinggal, yang tidak lain rumah suamiku dengan jarak tempat dimana aku akan bekerja sebagai cpns sangat jauh, sedang suamiku menghendakiku agar jangan sampai melupakan kewajiban sebaga istri, jika sudah masuk kerja nanti. Jika harus pindah kelihatannya suamiku kurang setuju mengingat orang tuanya yang sudah mulai menua dimakan usia. Hal demikian membuatku harus merelakan salah satunya, entah keluarga atau karir.

Pernah suatu saat bapakku bilang dengan santai sembari duduk di depan televisi.

“Aku merasa kecewa kalau melihat kamu Nduk, lha teman-temanmu sudah pada kerja sedang kondisimu sekarang… nganggur.” bapakku bilang dihadapan kami. Waktu itu suamiku duduk bersanding denganku. Posisi bapak waktu itu agak jauh dari kami, sekitar satu meter arah sejajar dengan kami, sehingga ekspresi wajahnya kurang bisa terlihat dimataku.

Sewaktu beliau berkata demikian, hatiku merasa kecewa terhadap ucapan bapakku. Kenapa beliau bisa berkata begitu? Memang tidak menafikan, orang tua ingin anaknya sukses dunia akhirat, tapi hal demikian tidak bisa dicapai sekaligus, Pak. Setelah mendengar ucapan itu, aku melihat ekspresi wajah suamiku terlihat risau. Beberapa saat kemudian perasaanku menjadi hambar. Soalnya semenjak aku menikah dengannya aku keluar dari pekerjaanku, dimana sebelumnya aku bekerja di sebuah rumah sakit ternama di Jogja, meski masih ber-status pegawai kontrak. Sedang suamiku bekerja sebagai wiraswasta yang baru merintis di rumah, jadi masih trial and error. Setelah menikah aku ikut suamiku, tinggal di Klaten. Kami nikah muda, sehingga jika saat ini dituntut untuk seperti mereka yang hidupnya sudah mapan, mohon maaf, kami belum bisa.

Menurutku, dulu aku termasuk mahasiswa yang pinter lho. Aku gak bermaksud sombong, yakin! Belum lulus aja aku sudah bekerja. Setelah lulus aku langsung mencari peluang pekerjaan yang pas dengan keinginanku. Waktu itu keinginanku untuk menerapkan ilmuku sangat tinggi. Proses demi proses kujalani hingga akhirnya aku bisa bekerja sebagai volunter di sebuah klinik terapi. Letaknya di Solo, setiap pagi jam 7 aku memacu sepeda motorku dari Klaten ke Solo untuk bisa belajar menerapkan ilmuku secara mandiri. Tidak bertahan lama, hanya 2 minggu, akhirnya ada teman yang menawarkan peluang kerja untuk ikut praktik dokter di sebuah apotek di Jogja. Seiring dengan bergulirnya waktu akhirnya nasib memilihkanku untuk merantau ke Jogja. Aku mengajak teman seperjuanganku. Waktu itu aku masih tetap menyandang profesi yang sama, okupasi terapis.

Dokter itu mengatakan, “Ini masih rintisan, jadi belum banyak pasien. Dan dapat uangnya kalau ada pasien, jika gak ada pasien otomatis gak dapat uang. Jadi nanti jangan menyesal.“ kata beliau dengan nada suaranya yang terdengar berat dan susah.

“Iya, insyaallah gak apa-apa, Dok.” Kataku dengan yakin. Tekatku semakin bulat. Mengingat beliau adalah seorang dokter senior yang mumpuni di rumah sakit pemerintah, saya terima tawaran yang menantang itu. Badannya yang tinggi besar disertai perut yang agak buncit tidak menciutkan nyaliku untuk bekerjasama dengan beliau. Umurnya setengah baya, jika Anda melihat matanya terdapat 2 kantung tebal dibawah kelopak matanya yang menandakan kerutan tua. Potongan rambutnya culun layaknya model jaman dulu. Tapi aku yakin, aku akan bisa berkembang. Aku mulai mengeksplor diri. ‘pasti nanti lama-lama juga ada pasien.’

Bersusah-susah dulu tidak apa-apa yang penting maju terus. Mumpung masih muda, aku akan memanfaatkan kesempatan dengan sebak-baiknya. Mumpung belum punya tanggungan aku akan cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Aku ingin mengetahui sampai mana aku bisa bertahan. Pikirku waktu itu. Aku mulai bergelut dengan nasib.

Itu sekelumit pengalamanku. Tapi sekarang keadaannya beda.

Kembali lagi, namanya orangtua ingin anaknya kelak bisa hidup enak dan serba kecukupan. Iya, itu tidak kupungkiri. Mungkin hanya dengan menjadi abdi negara kelak bisa hidup enak. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika tidak bekerja alias libur pun tetap mendapat gaji, selain itu juga mendapat tunjangan dihari tua.

Sebetulnya aku lebih suka menggunakan ilmuku untuk keluargaku. Adapun aplikasi teknis jika memang suamiku mengijinkanku untuk membantu bekerja diusahakan mencari tempat yang mudah dijangkau dari rumah dan masih punya banyak waktu untuk mengurus keluarga.

Tadi pagi ibuku bilang.

“Besok anakmu jangan sampai sepertimu, sekolahnya gagal! Jangan disekolahkan seperti kamu! sekarang buktinya cari kerjaan susah!!” dengan nada tinggi sembari duduk di sofa, beliau menceramahiku.

MasyaAllah, meskipun dia ibuku, tapi cara berpikirnya benar-benar beda denganku. Cara berbicaranya pun berbeda. Kata-kata yang beliau ucapkan sangatlah tidak enak bila dirasakan dalam hati. Bukan karena hatiku yang sangat sensitif tapi memang kata-kata seperti itu tidak pantas diucapkan kepada seseorang sekalipun kepada anaknya. Rasulullah saja mengajarkan kalau tidak bisa bicara baik lebih baik diam. Lalu kujawab,

“Apa sekolah tujuannya untuk mencari pekerjaan, Bu? Sekolah itu biar pintar. Kalau ibunya pintar anak nya juga akan pintar, karena pola asuh ibunya yang terpelajar sehingga dalam mendidik anakpun juga teratur. Coba kalau ibunya bodoh, cara mendidik anak sekenanya dan tidak bisa mengatur rumah tangga dengan baik, otomatis anaknya juga akan jadi bodoh. Namanya anak perempuan sekalipun sekolahnya tinggi pada akhirnya juga mengurus rumah tangga jika tidak ingin keluarganya terbengkalai.” Jawabku dengan suara gemetar. Aku menahan emosi agar jangan sampai mengucapkan kata-kata jelek. Aku menjawab sembari nonton televisi agar terlihat samar bahwa hatiku sangat tersinggung atas ucapan ibuku itu. Pandanganku kabur karena air mata yang mulai berkaca-kaca membasahi seluruh kornea.

Buktinya banyak, dari adik-adikku sendiri saja, sekolahnya terbengkalai, pergaulannya nggak genah, bergaul dengan para pemabuk, tidak bisa bersikap sopan dan menghormati orang tua, tidak mau tidur di rumah, jika punya uang dihambur-hamburkan untuk foya-foya dengan teman-temannya. Lalu bagaimana dengan fenomena seperti itu akan kubiarkan menimpa keluargaku kelak? Cukup jadi pelajaran bagi diriku saja. Aku sudah bertekad untuk mendidik dan merawat anak-anakku dengan tanganku sendiri. Sekali lagi, memang harus mengorbankan salah satunya.

Kelakuan seperti itu tidak mungkin terbentuk jika orang tuanya pintar dalam mendidik anak-anaknya, terutama seorang ibu. Ia berperan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Oke, itu yang pertama.

Yang kedua, apakah sekolah selama tiga tahun dengan ilmu yang dimiliki hanya ditentukan saat ini saja? Manusia itu berkembang dengan perubahan-perubahan pikirannya yang mulai berinovasi jika ia pintar. Pekerjaan tidak harus menjadi PNS. Sudah berulangkali kata-kata itu aku ucapkan kepada orang tuaku. Kedepannya, insyaallah aku ingin mendirikan sebuah klinik anak dan penerbitan buku, yang kedua pekerjaan itu bisa kukerjakan di rumah, sehingga aku masih bisa memonitoring rumah tanggaku, karena yang pertama dan yang paling utama adalah keluarga. Sesuai dengan pesan Allah dalam frman Nya, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.”

Insyaallah aku tetap akan menerapkan ilmuku. Aku masih ingat kok bagaimana cara meng-assesment anak-anak autis, hiperaktif, atau gangguan perkembangan lainnya. Bagaimana mengaplikasikan teknik bobath, aku juga masih ingat dengan kerangka acuan apa yang digunakan untuk menangani pasien jiwa dengan kasus tertentu. Insyaallah cita-citaku akan terwujud, jika aku yakin bisa melakukannya. Aku akan menunjukkan pada mereka bahwa aku bisa hidup sejahtera dengan ilmu yang kupunya meski tanpa menjadi abdi negara. Mungkin sekarang keadaan ekonomi kami baru sulit. Biasa, rumah tangga baru. Jalan yang kutempuh sekarang adalah dengan menjadi guru bantu di sekolah dimana bapakku mengajar disitu. Ini yang baru bisa kulakukan agar pikiranku tidak bosan sambil cari-cari pandangan yang lebih pas.

Memang terkesan mengecewakan jika orang lain memandangku dari satu sisi, duniawi. Tapi aku pernah ingat pelajaran dari sebuah buku yang berjudul Living Smart karangan Muhammad Nazhif Masykur bahwa bekerja itu tidak harus menjadi PNS dan Arrozaq itu adalah Allah. Lalu kenapa kita mati-matian mematok bahwa jika menjadi PNS masa depan akan cerah? Kubiarkan mereka yang menjawab sendiri.

Aku juga pernah mendapat pelajaran dari sebuah riwayat didalam sebuah hadits tentang seorang perempuan yang berhasil membuat ayahnya masuk syurga karena saking taatnya pada suami. Jika kupelajari lebih jauh, sebetulnya itu menguntungkan orang tuaku. Aku bisa menjadi jalan masuk syurga bagi ayahku dengan ketaatanku pada suami.

Malam harinya, aku mendekat dan duduk di samping suamiku.

“Mas, aku mau bertanya tolong jawab dengan jujur ya…” aku bertanya dengan jeda suara yang agak lama.

Suamiku terdiam agak lama, terlintas goresan keraguan pada wajahnya. Ia terkesan agak terpojok.

“… Iya.” Begitu ia menjawab sembari membungkusi makanan ringan yang akan kami jual keesokan harinya.

“Sebetulnya Njenengan menghendakiku seperti apa, maksudku masalah pekerjaan. Lebih suka aku di rumah atau bekerja diluar.” Begitu penjelasanku selanjutnya.

“Idealnya, seorang istri itu di rumah mendidik anak-anak dan mengatur rumah tangganya.”

“Tapi kata mereka jika seorang wanita tidak berpenghasilan sendiri dan hanya tergantung pada suami, ia akan diremehkan suami.” Aku kembali menjelaskan.

“Itu kan laki-laki yang tidak tahu diri!” begitu jawabnya dengan masih menenggelamkan dalam aktivitasnya.

“Jika demikian yang Njenengan kehendaki, sebaiknya kita hidup mandiri dan sudah tidak campur sama orang tua biar aku bisa mengatur segalanya dengan bebas dan aku lebih bisa melayani Njenengan dengan maksimal. Aku bisa menerima keadaan kita saat ini kok.” Begitu kataku dengan masih membantunya memasukkan makanan ke dalam plastik.

“Ya, kalau kamu mau menjadi istriku, ya harus bersedia menerima keadaanku seperti ini Sabar dulu ya… maaf aku belum bisa memberikan yang terbaik untukmu.” Suamiku berbicara dengan santai.

Bukan masalah atas diriku untuk menerima keadaan suamiku apa adanya. Aku pun mengerti bahwa sikap seorang istri sholihah harus bersyukur atas pemberian suaminya. Aku juga tidak menuntut lebih darinya, hanya saja aku ingin hidup mandiri tidak tergantung pada orang tua. Itu saja. Biar aku bisa melaksanakan peranku sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga dengan semaksimalku.

Aku berharap suatu saat nanti anakku bisa menjadi generasi terbaik diantara yang baik. Menjadi pemimpin masa depan yang bisa diandalkan, mampu mendobrak peradaban jaman yang semakin tak karuan, serta menjadi generasi robbani yang siap menegakkan qur’an dan sunnah Nabinya.

 

 

Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

 

Hati Seorang Istri

Seorang wanita terkenal dengan kelembutan hatinya, namun juga terkenal untuk selalu mengedepankan perasaannya dalam menyelesaikan setiap masalah. Sebelum menikah ilmu sudah ia persiapkan dengan matang dan merasa sudah siap untuk menjadi seorang istri sholehah, mau menerima keadaan suami apa adanya dan tidak menuntt suami diluar kemampuannya.

Namun pada kenyataannya, banyak aral yang menghalangi dan menggoyahkan imannya. baik dari tingkah laku kekanak-kanakannya, ia mulai merengek minta perhatian suaminya, sikap kecembuaruannya sangat besar, ia mulai berwaham curiga jika suami mempunyai hubungan dalam bentuk apapun dengan wanita selain dia, sekalipun kepada penjual sayur atau kepada wanita siapapun.

Saya yang sekarang menjalani peran sebagai seorang istri, ingin berpesan pada para calon suami dan para suami.

1. Kenalilah istri Anda baik-baik, apakah dia tipe wanita pencemburu ataukah tipe wanita cuek. Jika tidak hati-hati anda mengucapkan nama seorang wanita atau bertanya tentang seorang wanita kepadanya saja, ia akan mendiamkan anda selama berhari-hari. jika Anda membiarkannya, maka masalah kecil ini akan meruncing dan akan memuncak. tentunya semua ini tidak kita harapkan, maka jika Anda tahu dia marah, maka segera rangkulah dia, dekaplah dia dengan penuh kehangatan, ciumlah dia dan ucapkan kata-kata yang menenangkan hatinya. Bujuklah dia untuk tersenyum dan minta maaflah kepadanya sekalipun Anda tidak merasa bersalah, karena ini akan mencairkan suasana.

2. Jangan berkata kasar kepadanya, jika ia tidak melakukan kesalahan yang terlalu atau melanggar tuntunan agama. Jika hanya bertanya sesuatu yang tidak ia mengerti, atau sebetulnya mengerti tapi ia bermaksud bercanda jangan ditanggapi dengan sinis, ucapkanlah kata-kata yang membuat hatinya senang. Balaslah candanya dengan canda yang membuatnya senang, ucapkanlah kata-kata, “Iya sayang…. kamu kok pintar sekali sih..!” atau apalah Anda lebih tahu kondisi istri Anda.

3. Jika Anda menghendaki istri Anda untuk berada dirumah, menemani Anda maka berilah dia kegiatan atau aktivitas yang bermanfaat. Jangan biarkan dia menganggur. karena menganggur akan sangat mempengaruhi psikisnya. pertama, menganggur akan melemahkan iman, jika iman lemah maka itu akan merugikan Anda, akan banyak percekcokan antara kalian berdua. ini butuh penjelasan lebih detail, jika mau bisa bertemu dengan saya, bisa saya jelaskan.

4. Jika Anda tidak memberinya aktivitas bermanfaat atau belum ada yang bisa dikerjakan, maka sebaiknya dari awal Anda membangun rumah sendiri atau sewa kontrakan. intinya untuk hidup kalian berdua. karena dengan mempunyai rumah yang bisa diatur seorang istri, ia merasa puas menjalankan perannya sebagai istri. ia bisa mengatur dan memeneg segalanya secara maksimal, sehingga ia tidak menganggur dan waktunya habis untuk mengurus rumah tangga. memang ia berperan sebagai seorang istri, tapi jika gak ada kesibukan ditambah masih tinggal bersama orang tua, maka ia merasa sangat tidak berarti. mau mengerjakan apa? mau mengatur rumah secara maksimal jelas tidak bisa, karena itu bukan mutlak wewenangnya, sehingga banyak waktu yang ia habiskan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, dan ini akan melemahkan mentalnya.

Jadi untuk para suami, persiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk membantu tugas istri. jangan dibiarkan ia begitu saja tanpa memperhatikan psikisnya. memang Anda lah yang bertanggung jawab memberikan nafkah, nafkah lahir maupun batin mungkin Anda sudah merasa memenuhi, tapi namanya manusia itu butuh bergerak, butuh berfikir dan ia akan stress jika tidak punya kesibukan diluar kewajibannya sebagai istri. Ia juga butuh pergaulan dengan teman-temannya, ia butuh penyaluran dari hobinya, dan segala human being lainnya. maka jadilah suami yang cerdas, yang penuh inovasi agar rumah tangga Anda seperti apa yang Anda inginkan.

Thursday, in Evening

Intro…

I felt this several times I have been long distance from Allah. I could have many ideas until I have been forgot many activities which it is can potential to make near from Allah. I had been confused, what will I do, which one activity can I do first? I though all of my activities just in my brain, can’t realize in the live. But, I felt this mind is full until make me have so tired and sleep by deep.

“Hi all of people have been believed! Obedient to Allah and get the track anymore to make good relation with Allah, and struggle on His way, in order to you have got happiness, by the time.” Al Maidah 35.

The mean of obedient in there is we must to evade the bad activities. Many activities have we did in under awareness which they haven’t potential to make good relation with Allah, only to aim have a nice live in the world and it’s haven’t sincere because Allah.

Study about religion knowledge is a way of make a good relation with Allah and it’s a one of tracks can make us have entered to heaven. But, some times we aren’t sure to do it. Haven’t struggling to get it and make sure to do it. So, we doesn’t do believe to do and expression any more in daily living. That is true mistake. And all of them had been started from haven’t spirit to study by hard.

The process of input knowledge in our brain are, the first we can be understand what the mean of them (messages) from the information. And then compare our knowledge with other input. So, the assimilating process can be smooth. That activity can influence our behavior by the time.

Come back the first topic. If we have been knew the knowledge, so next plan is do it. The indicator was accepted our rewards are,

1. Believe in Allah and sincere (clean)

Clean the mean that my heart isn’t contaminate by syirik TM although it was been little. So, we must be carefully and keep by hard our present.

2. It’s like with syariatTM

Hasn’t can make a syriatTM except Allah and His prophet.

“What they have more homage except Allah who have make syariatTM for them religion which Allah hasn’t sincere about it? If hasn’t ruler from Allah, of course they will have died. And really, the tyrant people will have got a punishment so hard.” As Syu’ara 21

Never something is useless if we are does to struggle by sincere. Because every our step and our pulse of the heart will count Allah’s beside. Take care by hard. So don’t be wrong, when we are takes the way. What do you know about punishment of the hell? In one day in there is like 1000 years in the world. The coldest fire is 70000 C. the easiest punishment is when your feet touch in the fire, so your brain does boil. They want to run by hard and all of some thing which can be as stake, they are will do. Including they will to victimize them children. Really, it’s so terrible. But, Allah has made a ruler that they will not run from that punishment, in the hell although they have all of rich in the world to ransom themselves. Allah never need of them, Allah is richest all of something in the world or the great beyond.

The time I don’t know, what my language structure is wrong or not, the most important you know about that information’s and make a conclusion.

Dimatanya Aku Melihat Secercah Harapan…

ANAK ITU

ANAK ITU

Aku suka kala melihat seorang anak kecil laki atau perempuan. Seorang anak yang menginjak remaja ataupun mulai dewasa. Setiap aku melihat sorot matanya, dalam benakku menangkap bahwa dipundaknya agama ini ia pikul, mereka akan menyatu untuk bersama-sama menciptakan masyarakat Islam. Mereka akan berjuang bersama demi kejayaan Islam yang mulia.

Dalam senyum ceria Si anak perempuan manja itu, nantinya akan lahir seorang mujahid muda yang siap membela Islam. Berkat kecerdasannya dalam mendidik, ia mampu berperan sebagai seorang ibu yang smart, mengatur rumah tangganya hingga semua berjalan sejalan sesuai Qur’an dan Sunnah, ialah kopilot yang handal, menemani pilot dalam penerbangannya ke suatu tempat yang jauh. Penerbangannya akan mendarat mulus karena nasihat mutiara yang keluar dari mulutnya untuk seorang pilot sejati. Ialah seorang titisan bidadari Syurga, dan inilah terobosan baru yang mengesankan. She is amazing!!

Kala aku melihat anak laki-laki itu, terdegar celotehnya serta gelak tawa yang ceria, seakan hidup tanpa beban. Nantinya ia akan menjadi seorang Jundi Islam yang kuat dalam menyusun strategi kehidupan dan mampu mengambil peran dalam dakwah. Ia akan  menjadi tokoh yang disegani semua orang karena kekhsyukannya dalam berIslam. Ia akan menjadi seorang yang dikagumi karena keshalehannya. Inilah suatu gebrakan yang mengesankan. He is excellent!!

Sayangnya aku suka lupa nama mereka… oh, maafkan aku sayang…

Syndroma CPNS

Mengapa hanya mentok disitu? Mungkin bisa dikatakan bahwa sebuah pekerjaan yang paling banyak diminati  orang adalah menjadi PNS? Mengapa? berita yang denting akhir-akhir ini mengenai formasi calon PNS. Apa baiknya jadi seorang PNS, pertanyaan itu pernah terlontar dari mulutku kepada seorang temanku. “Khan waktu kita memasuki usia senja, dapat pensiunan Mbak?” . Lantas kulanjutkan pertanyaanku, “Mbak apa kamu senang jika diangkat sebagai PNS sekarang?” mengingat umurnya masih tergolong muda. Kontan langsung ia jawab, “Ya seneng lah…” Lantas aku tanya pada seorang senior, dengan pertanyaan yang sama, jawab beliau, “PNS itu walaupun libur tetap dapat gaji??!!” Ohhh… Apa ini yang dicari?? Iya, memang tidak memungkiri manusia hidup butuh uang. Sebetulnya bermunculan pertanyaan dalam benakku menanggapi sindrom ini. Pertanyaan itu:

1. Apakah kita sudah bisa memastikan akan hidup sampe tua? lantas ada yang bilang, “Yo buat anak cucu kita no!”

Halahemmm… mereka biar cari sendiri. Mereka kita bekali ilmu aja, Allah akan mengurusnya.  Itu pendapatku.

2. Diangkat sebagai PNS bukanlah tujuan akhir sebuah keprofesionalan, Bukan juga indikator sukses seseorang selama hidup di bumi Indonesia ini. Ia akan mengabdikan diri pada negara sampai batas umur tertentu (sampe pensiun). Dan secara otomatis ia akan terikat peraturan mulai sejak ia masuk. Jika masuknya sudah usia muda, maka sama saja ia mempersembahkan waktu yang ia punya untuk negara, dimana didalamnya terkandung pertaruhan iman, meski hanya secuil, mungkin.  Tidak sebagaimana berwirausaha (terlepas dari abdi negara), jika pengen berhenti bolehlah… karena kendali ada pada dirinya. itu yang terpikir olehku saat ini. Apakah ia puas dengan dirinya?? Yang seharusnya waktu muda, waktu dimana seseorang mampu mengeksplor dirinya, hingga ia tahu makna hidup ini.

3. Apa kita tidak ingin berbuat yang lebih? mengaktualisaikan diri kita untuk suatu yang bisa lebih bermanfaat dan mendapat kepuasan dalam hidup. Boleh cari-cari ide kreatif untuk mewujudkan cita-citanya. Konsentrasi penuh untuk mengembangkan program pribadinya.

4. Masalah jaminan dihari tua, tidak perlu dijamin, karena sudah bisa dijawab tidak akan ada yang bisa menjamin. Kata Ustadz Ahmadi, hari ini adalah milik kita, hari kemarin sudah tidak bisa kembali dan hari esok juga belum tentu menjadi milik kita lagi. Hanya hari ini saja. Lantas mengapa kita repot-repot memikirkan masa tua segala, sesuatu yang tak pasti. Hmm… aku juga tak habis pikir.

5. Belum lagi, untuk melengkapi persyaratan musti banyak berkorban, termasuk mempertaruhkan kehormatan. Akh… kadang aku bertanya, apakah pengorbanan semacam ini tetap ada nilainya? meski untuk menyenangkan orang tua? Aku sungguh butuh pembimbing untuk menjawabnya.

6. Kita tidak tahu, apa yang sesungguhnya mereka cari atas keinginan yang menggebu untuk jadi seorang PNS?? apakah orientasi dibalik hal yang mereka jalani? dan akupun tidak tahu, ini masih menjadi dilema besar dalam hatiku. Aku butuh seorang penasehat yang mumpuni untuk keputusan semacam ini. Ini sebuah kebodohanku atau kepayahanku, Entahlah… yang penting segala sesuatu yang kita jalani menjadi jalan kebaikan untuk lebih mendekat dengan Nya.

Dibalik semua kesenangan yang kita bayangkan tentu ada konsekuensi kewajiban dan pertanggungjawaban. Apa yang engkau rasakan wahai abdi negara? pada hakikatnya menjadi PNS adalah pengambilan keputusan besar untuk bersedia mengemban amanat negara, menjadi pelayan rakyat. Bukan suatu amanah yang dengan mudah diremehkan, sekecil apapun. Termasuk menyia-nyiakan kapur tulis di sekolah SD.

Pernah dengar kisah Amirul Mukminin Ummar Bin Khattab RA?? Beliau seorang pemimpin negara, yang dengan rela berpakaian ala kadarnya, memikirkan kesejahteraan ummat, rela membawakan sekarung gandum untuk seorang ummat yang dilanda lapa dengan tangannya sendiri, seluruh waktunya terfokus untuk  ummatnya, agar umatnya selamat dunia-akhirat.

Atau pernahkah Anda mendengar seorang Gubernur yang rela bermalan dengan gelap gulita dirumahnya? Dengan penuh kesadaran bahwa tidak sepeserpun ia manfaatkan harta ummat, meski hanya sedikit minyak tanah untuk penerangan dirumahnya.

Begitulah konsekuensi menjadi abdi negara. Lantas, sudah siapkah iman kita? mempersembahkan hidup untuk umat? bukan saya bermaksud melarang untuk memberi kebebasan terhadap suatu pilihan, tapi haruslah tahu konsekuensi apa yang musti di jalani setelah menceburkan diri. Semuanya akan dihitung, semuanya akan tercatat.

Sekarang aku ingin pulang, setelah seharian berkutat dengan wajah-wajah awam. Aku berharap pertolongan Allah akan dekat dan menghampiriku, memilihkan terbaik untukku. Hatiku beserta pikiranku ingin sekali dibimbing dalam kebenaran, hingga sesuai dengan fitrahnya.

Lahirnya Jundi Baru

Sebuah harapan yang dinanti telah tiba. Sebuah penantian selama kurun waktu tertentu kini telah membuahkan hasil jua. Seorang Jundi yang kelak akan menjadi harapan umat, menelorkan ide2 brilian untuk tampil menjadi yang terdepan.

Seorang bayi kecil yang akan menjadi pangeran dalam hati setiap yang memiliki cinta. Harapan akan hadirnya seorang Erdogan baru untuk menumbuhkan kembali semangat Islam, kini mulai cerah, terdeteksi secercah asa untuk membuat agama ini tidak pudar nyala apinya.

Saya yang duduk disini, turut bahagia dengan senyum manisnya, atas lahirnya seorang Jundi Islam yang mampu menjadi harapan ummat. Atas keberhasilan perjuangan seorang ibu bertaruh nyawa untuk melahirkannya.

Selamat datang di dunia kami, adik manisku… Selamat datang manusia kecil yang bernama ABBAS ERDOGAN, semoga Allah melimpahkan karunia kecerdasan atasmu, kekuatan iman untuk menopang sendi-sendi Islam.

Selamat atas Mbak Indri Zulaihah Abbas Sukarno beserta suami tercinta, semoga ini menjadi langkah awal untuk mencetak generasi robbani, semoga Allah melimpahkan kebahagiaan atas kelurga Anda berdua, dan tentu keluarga saya, nantinya…

Memang, Kehidupan Itu Misteri!

Sore, petang hari habis pulang dari suatu tempat, beberapa menit yang lalu ponselku berbunyi tut tut… tut tut…biasanya suaranya begitu. Saat kulihat beberapa waktu setelahnya, ada tulisan pada layar ponselku, 1 pesan diterima! Setelah kubuka, aku sempat terkejut akan isinya. Seakan tidak percaya, namun apa sich yang tidak bisa bagi Allah? Semuanya mudah! Orang yang setiap minggu kulihat, kini telah tiada, maksudku meninggal dunia karena sebuah kecelakaan, begitu penjelasan kalimat berikutnya. Ya! Teman seangkatan yang dulu pernah bersinggungan selama di SMP dan SMA. Yang terbersit dalam benak pikirku waktu itu, seseorang yang umurnya hampir sebaya denganku telah menghadap Allah lebih dulu. Apakah pada usia yang kesekian itu telah puas mempersembahkan yang terbaik dalam hidupnya? Jika pertanyaan itu dilontarkan padaku, maka mulutku akan kelu, pikiranku mulai bekerja mengingat-ingat kebaikan apa yang telah kulakukan dengan ikhlas hingga kekal disisiNya, dan aku punya hutang pada siapa saja? Aku tidak punya cacatannya, sehingga aku lupa apakah lebih banyak amal baiknya ataukah amal buruknya?

Komentarku dari peristiwa itu, “Hhh… memang kehidupan ini misteri.” Sembari melepas semua pikiran yang masih menempel. Tiada yang tahu juntrungnya selain Sang Maha Pencipta.

Siang hari sebelumnya, aku juga mendapat es em es, meski sudah terhapus, tapi aku ingat inti pesan yang disampaikan, ‘hadirilah pesta pernikahan kami’ intinya seperti itu. Ia juga temanku seperjuangan waktu kuliah dulu. Rumahnya disana, rasanya aku tidak mungkin menghadiri pernikahannya, aku hanya turut berbahagia atas karunia yang tengah diberikan Allah atasnya, dan semoga berkah Allah atas mereka berdua serta dalam kehidupan selanjutnya.

Pfff…! Berbagai macam peristiwa terjadi dalam satu waktu. Sekali lagi, memang kehidupan ini misteri. Bahkan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Siapa jodoh kita, dan di bumi mana kita akan meninggal? Ada masanya perasaan sedih bersemayam dalam hati seseorang, sedang disisi lain kegembiraan yang tak bisa diungkapkan karena akan menuai kebahagiaan bersama orang yang dicintainya. Namun, satu hal yang perlu dicatat. Allah Maha Adil, dan Dia yang memiliki kita semua, jadi suka-suka Allah terhadap makhluqNya. Makhluq hanya bisa menerima.

Dalam otakku sempat bertanya, kapan aku akan menemui keduanya? Lantas sisi otak yang lain mencoba menjawab, ‘Itu tak perlu kau tahu, memang hidup ini penuh misteri’, jawabnya. Yang terpenting adalah siapkan dirimu untuk keduanya, karena dibalik persipan dua peristiwa itu terkandung berjuta kebaikan hingga Allah memberikan keputusan atasmu, lanjutnya lagi.

Hhh… aku menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya. Iya! aku megiyakan apa yang mereka nasehatkan. Mereka adalah suatu kesatuan yang membentuk diriku. Akal, dan perasaan. Keduanyalah yang membedakan kita dengan makhluq ciptaan Allah yang lain. Mereka terbingkai dalam satu wadah, jika wadah yang digunakan cocok, maka ia akan tumbuh subur dan akan menguatkan kesatuan seorang manusia, human being. Pun Anda sekalian juga begitu, aku mengiranya. Wadah yang kumaksud itu adalah iman. Carilah wadah yang pas untuk akal dan hati Anda, maksudku sesuai fitrah pembentukan seorang manusia, karena keduanya akan membentuk pola pikir, mengubah gaya hidup dan segala sesuatu yang berkenaan dengan pembentukan manusia professional. Kita bisa membuat, dan meng up grade nya setiap saat, agar selalu tampak cantik, dilihat dari luar maupun dari dalam.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
Coba tebak, dalam surat apa ayat berapa? Yang jelas dari Al-qur’an.

Source of Spirit

I feel, any trouble in my self now. My spirit is lost, so I’m lazy to do something. Actually, where this live to go? If all of this live just up to flow, and not to create, we can’t get our goals. As good as in this live has created by strong spirit. It’s a pressure who has make a touch and colour in our live. So, this track will be look by light, and matching like with our idea.

Next, how improve our spirit? Our spirit will be start up when we act to press our self to do something. That press has source from our knowledge or experience we have it for to press our self to do something. So, that will be spirit always continue is our spiritual near from Allah, our spiritual is near to Allah, it is our goal by the end.

Spirit and believe in Allah is two sign who have will be meet in one point, so that will create the man or women be a good perform in Allah’s beside. He or she is a good Moslem.

But, all of that can’t create when we are doing something in our heart contaminate by arrogant and just to do importance for us. This phenomenon are destroyer who has not aware by nice. A naïve what can potent long of our God. Then what we must to do? The answer are Pray and to press for back to the Allah’s track. This is a arrange from “istiqomah”.

TERTUNDUK SAAT TERSADAR

Saya adalah seorang petugas kesehatan disebuah rumah sakit pemerintah, jangan terbayang soal statusnya apakah PNS atau non PNS tapi bagaimana tugasnya dan ilmu apa yang tengah didapat selama berdiam menekuni semua itu.  Itu semua bisa diatur sesuai dengan hati kita dan pola pemikiran kita.

Saat saya berjalan disebuah koridor salah satu dari banyak koridor di rumah sakit, saya menjumpai seorang wanita. wajahnya terlihat aneh dalam benak pikir saya, entah apa yang menimpa beliau sehingga terkesan menyentuh hati bagi orang yang melihatnya. Mungkin saja orang akan memicingkan mata kala melihat wajahnya, ah… tak tahu lah yang penting aku merasa iba terhadapnya.

Awalnya wanita itu berjalan dengan wajah tertunduk, saya sempat sedikit curiga dengan keanehan wajahnya. Hidungnya tinggal separo, wajahnya rusak dan terdapat luka yang basah hampir 80% pada wajahnya, mirip kulit yang baru terbakar, semacam gangrene. Entah apa diagnosisnya saya tidak tahu pasti.

Satu hal yang musti saya catat dalam pikiran adalah saat saya membandingkan dengan beliau, telah ada pada kita akan sebuah kejernihan akal untuk berfikir, hati untuk merasakan, wajah yang murah senyum lagi menyenangkan saat dilihat (meski dalam tahap proses sih…) ditambah kesehatan yang tak terkira nilainya, organ-organ tubuh yang masih berfungsi dengan baik, bisa merasakan kelonggaran dalam hidup, dan menelorkan ide-ide cemerlang, sehingga memberi kepuasan pada orang-orang disekitar kita dan nikmat iman yang musti kita jaga untuk terus bersemayam dalam diri kita. Apakah ini semua masih kurang, sehingga setiap hari terus memutar otak untuk sekadar mendapatkan sesuatu yang lebih rendah dari seonggok bangkai anak kambing yang telinganya cacat??

Kadangkala pemikiran-pemikiran tentang apa yang kita lakukan dan kita pikirkan juga musti mendapatkan porsi yang jelas untuk koreksi diri agar tidak selalu menengadahkan kepada dalam hal dunia. Bagaimana dengan orang-orang yang musti butuh sentuhan perhatian kita meski mereka tanpa mengatakan masalahnya dengan jujur, saya kira ini butuh kepekaan hati dan pembisaan peduli pada sesama, sedang kita sendiri masih sulit untuk meluangkan waktu. Sering kali juga kita menempatkan porsi pemikiran yang lebih pada hal-hal yang sia-sia.

Kata guru ngaji saya, “Kita musti membiasakan diri untuk menjadikan sodara2 semuslim bagian dari diri kita…” sebagaimana instruksi yang telah diberikan Rasulullah pada kita. Perlu banyak waktu untuk memikirkan hal ini.

“Menciptakan Kepuasan Hidup dengan Berasuransi“

Ada banyak usaha untuk mendukung eksistensi kehidupan manusia. Banyak antisipasi dilakukan sebelum datang banyak permasalahan hidup yang tak terduga. Masalah yang satu belum terselesaikan sudah datang permasalahan berrikutnya, begitu seterusnya hingga akhir menutup mata. Semisal anak pertama belum lulus kuliah, anak kedua dan ketiga masing-masing mulai masuk SMA dan SMP dimana didalamnya menuntut untuk mengeluar uang dengan jumlah yang cukup besar. Selain tuntutan pendidikan anak, diiringi kebutuhan biaya hidup yang semakin meningkat, disatu sisi salah seorang keluarga terkena musibah yang mengharuskan seseorang mengeluarkan uang dengan jumlah yang tidak kalah besar, sedang penghasilan tetap dan tidak ada sumber penghasilan lain yang diharapkan. Secara manusiawi, seseorang akan mengalami sebuah tekanan manakala terhimpit masalah disaat situasi tidak mendukung.

Setiap manusia mempunyai misi dan cita-ciata. Bagi salah seorang, mungkin telah merangcang dan merencanakan kehidupan untuk maraih cita-cita yang telah diimpikannya. Namun suatu hal tak terencana tiba-tiba terjadi dan menuntut seseorang untuk selalu siap akan sebuah resiko. Disaat yang seperti ini sifat manusia sebagai makhluq sosial akan muncul, ia akan membutuhkan pertolongan dari orang lain ataupun sanak saudara. Namun sungguh malang nasibnya kala saudara, teman atau orang lain yang dimintai tolong tidak bisa berbuat banyak.

Dalam kerangka mengatisipasi itu semua, seseorang berinisiatif untuk menabung dihari tua, demi menopang keberlangsungan hidupnya, keluarga ataupun hartanya, dengan cara ikut menggabungkan diri disebuah perusahaan yang dipercaya mampu memberikan jaminan masa depan bagi dirinya, dan keluarganya. Saat Si kecil sakit mendadak, atau salah satu keluarga mengalami kecelakaan, saat rumah atau toko yang telah dikelola selama bertahun-tahun mengalami musibah, maka pikiran seserang yang terbesit saat itu sudah bisa diterka, ya, “Andaikan aku ikut asuransi.” terlepas apakah ia sudah mengikuti asuransi atau belum. Mengasuransikan jiwa ataupun barang yang dipunyai kepada perusahaan asuransi menjadi cara yang dipilih dan dipercaya masyarakat modern untuk memberikan jaminan masa depan atas diri dan keluarganya.

Dengan sistem yang telah tertata, sebuah perusahaan asuransi membantu meningkatkan kesejahteraan dan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Dilihat dari segi materi, hidup ini akan lebih terjamin karena terpenuhi segala kebutuhan hidup baik yang segera maupun yang bisa ditunda.

Dijaman sekarang, lingkungan atau keadaan menuntut kita untuk lebih selektif dan tepat dalam menentukan keputusan, termasuk memilih sebuah perusahaan asuransi. Maka satu kunci yang musti dipegang yakni kejujuran, karena kejujuran adalah awal dari kebaikan. Sebuah perusahaan yang kredibel akan menjadi partner setia dalam hidup pelanggannya hingga keberadaannya membawa berkah dan manfaat bagi masyarakat yang ikut bergabung didalamnya.

Dalam kancah dunia perasuransian, muncul sebuah perusahaan asuransi yang memiliki visi dan misi yang jelas. Kejelasan visi misi inilah yang bisa dijadikan sebagai jalan penentuan pilihan hidup yang tepat. Sebuah perusahaan asuransi yang bisa dijadikan sebagai partner pada satu sisi kehidupan yang sedang dijalani. AJB Bumiputera 1912 melalui sumber daya manusia yang sanggup berjuang sebagaimana sejarah pendirian Bumiputera sebagai perusahaan perjuangan, selalu berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memberikan pelayanan berkualitas dibidang asuransi kepada para pemegang polis. Dengan mengikutsertakan diri dan keluarga pada sebuah perusahaan asuransi, hakikatnya telah menginvestasikan masa depannya, terhitung dari segi materi.

Adapun keuntungan kita saat mengikuti asuransi jiwa ataupun asuransi umum diantaranya, mampu menstabilkan perekonomian keluarga saat mengalami pergolakan, mendapat jaminan dimasa tua, jaminan sekolah anak terpenuhi, atau kesejahteraan keluarga ataupun barang yang diasuransikan mendapat jaminan jika sewaktu-waktu mengalami kerusakan atau kecelakaan. Dengan demikian, peluang terjadinya keputusasaan seseorang saat dilanda musibah bisa terkurangi. Hal ini dikarenakan beban kerugian materi telah tergantikan dari perusahaan asuransi yang telah diikuti, sehingga ia masih bisa berusaha, berjuang untuk mempertahankan eksistensi hidupnya..

Seorang yang cerdas adalah orang yang memikirkan keberlangsungan hidup (nasib)nya dimasa yang akan datang, maka jadilah orang yang cerdas dengan menstandarkan pola pikir sebagaimana orang cerdas.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.